Kisah Julius Setiawan, 16 Tahun Menjaga Tradisi Barongsai yang Menolak Tumbang oleh Produk Massal

Feb 15, 2026 - 14:56
 4
Kisah Julius Setiawan, 16 Tahun Menjaga Tradisi Barongsai yang Menolak Tumbang oleh Produk Massal

Di tengah maraknya barongsai impor berbahan bambu dari Vietnam, nama Julius Setiawan tetap bertahan sebagai satu-satunya perajin barongsai di Kabupaten Sidoarjo. Selama 16 tahun terakhir, ia konsisten memproduksi barongsai handmade sekaligus menjaga eksistensi budaya Tionghoa melalui karya yang dibuat sepenuhnya dengan tangan.

Perjalanan Julius dimulai pada 2006. Awalnya, ia tidak memiliki latar belakang sebagai perajin. Ketertarikannya muncul setelah dua barongsai milik tim pertunjukan di Sidoarjo mengalami kerusakan.

Barongsai tersebut sebelumnya didatangkan langsung dari China atas permintaan mantan Bupati Sidoarjo, Win Hendarso, saat kelompok barongsai dibentuk sekitar tahun 2000.

Alih-alih membeli baru, Julius memilih memperbaiki sendiri. Rasa penasaran membawanya mempelajari struktur dan teknik pembuatan barongsai dari nol.

“Dari sekadar memperbaiki, saya mulai merancang dan memproduksi karya sendiri,” ucapnya, Kamis, (12/02/2026).

Kerja keras itu membuahkan hasil. Sejak 2010, barongsai buatannya mulai dipesan berbagai kelompok. Julius dikenal memiliki karakter desain khas, terutama dari segi corak dan bobot yang lebih ringan dibanding produk impor.

Barongsai produksi Vietnam umumnya menggunakan rangka bambu yang kokoh namun relatif berat. Sementara Julius memadukan galvalum dan bambu sebagai rangka, lalu melapisinya dengan kain kasa dan kertas HVS hingga tiga lapis.

“Bagian luar menggunakan kain kanvas sebelum masuk tahap pengecatan, pernis, serta pemasangan bulu domba dan aksesori,” tambah pria yang mengaku tinggal di Perumahan Shoji Land, Candi, Sidoarjo.

Dikatakan Julius lebih jauh, keunggulan utamanya terletak pada bobot yang lebih ringan sehingga nyaman digunakan dalam pertunjukan berdurasi panjang. Hal ini menjadi nilai tambah bagi tim barongsai yang sering tampil dalam berbagai acara.

Setiap karya dibuat dengan corak berbeda. Tidak ada desain yang benar-benar identik karena seluruh proses dilakukan manual. Ini membentuk gaya visual Julius yang kini berkembang menjadi corak abstrak khas pada bagian kepala barongsai.

“Sudah hobi menggambar sejak kecil,” ucapnya lirih.

Proses pembuatan terbilang kompleks. Kepala barongsai dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua minggu. Sementara badan membutuhkan waktu hingga dua bulan karena pola melengkung dan lapisan kain yang lebih rumit.

Pandemi Covid-19 menjadi fase terberat dalam perjalanan usahanya. Selama hampir dua tahun, pesanan dan pertunjukan praktis berhenti total. Namun setelah situasi membaik, permintaan kembali meningkat signifikan setiap tahun.

“Cobaan terberat saat pandemi Covid-19. Bersyukur masih bisa bertahan sampai saat ini,” ujarnya.

Harga satu set barongsai buatan Julius berkisar Rp4 juta hingga Rp7 juta per unit, tergantung detail bulu dan aksesori. Untuk barongsai dengan bulu tebal dari kepala hingga kaki, harga mencapai Rp7 juta. Adapun naga barongsai, yang prosesnya jauh lebih rumit, dibanderol Rp7–9 juta per unit.

Tahun ini, Julius menerima enam pesanan barongsai dan tiga naga. Bahkan ia terpaksa menolak dua pesanan tambahan karena keterbatasan waktu produksi. Pesanan terjauh datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT), membuktikan bahwa karya lokal Sidoarjo mampu menembus pasar luar daerah.

Meski permintaan terus meningkat, Julius menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya manusia, khususnya penjahit. Selain itu, beberapa aksesori tertentu masih harus dipesan dari luar negeri karena belum tersedia di dalam negeri.

“Tak hanya memproduksi, kami juga mengelola sekitar 60 personel tim barongsai yang rutin tampil saat musim Imlek maupun acara lain seperti ulang tahun, perayaan Agustusan, karnaval, hingga khitanan. Pertunjukan kerap digelar di hotel dan restoran,” ungkapnya.

Di tengah arus globalisasi dan produk massal, Julius Setiawan membuktikan bahwa konsistensi, ketelatenan, dan sentuhan budaya lokal mampu bertahan dan tetap diminati. Selama lebih dari satu dekade, ia bukan sekadar perajin, melainkan penjaga tradisi barongsai yang terus hidup di Sidoarjo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0